Balik ke Tempat PTT (I): Dua Jam di Dalam Pesawat Sriwijaya Air Bolak-balik Makassar-Gorontalo, Gorontalo-Makassar
“Ca, Gue sampe gemetaran lho tadi di atas.” Kata Dian, teman dokter PTT saya sesaat setelah kami berada di perwakilan Sriwijaya Air di bandara Hasanuddin Makassar. Pesawat Sriwijaya Air yang kami tumpangi dengan tujuan Makassar- Gorontalo akhirnya balik lagi ke Makassar setelah kira-kira hampir setengah jam-an berputar-putar di atas Gorontalo karena cuaca buruk dengan hujan sangat deras dan tidak adanya lampu di jalur landasan bandara Jalaluddin Gorontalo. Tentu saja pesawat kami tidak bisa mendarat. Yang saya salut, cepatnya pilot mengambil keputusan untuk tidak memaksakan pesawat mendarat dengan kondisi seperti itu, pramugarinya pun terlihat tenang, mungkin karena sudah terbiasa kali ya? Sedangkan penumpang sontak kaget, ada yang kecewa tapi tak sedikit yang senang -termasuk saya karena balik ke makassar lagi, horreee…hehehehe…- tapi yang jelas semua bersyukur karena nyawa selamat. Meskipun beberapa kali terjadi goncangan di dalam pesawat saya sebenarnya tidak mengira sama sekali kami akan balik ke makassar lagi. Empat puluh lima menit kemudian kami tiba kembali di bandara Hasanuddin Makassar.
Di perwakilan Sriwijaya Air kami dapat info kalau kami akan diberangkatkan kembali ke Gorontalo dengan pesawat yang sama besok paginya jam setengah tujuh, segala macam akomodasi seperti penginapan ditanggung sepenuhnya oleh Sriwijaya Air. Saya berterimakasih deh buat Sriwijaya Air!
Sejak mendarat Dian terlihat sangat sibuk menelpon dan ditelpon, sepertinya semua keluarga dan teman-temanya dia kabari kejadian tersebut, Mungkin begitulah cewek beda ma cowok. Dia senang karena akhirnya nginap di Makassar, dia sebelumnya belum pernah ke Makassar, biasanya sih cuma transit dari Jakarta. Ada keinginan untuk pulang ke rumah tapi karena sudah agak malam, capek -karena mesti bolak-balik bawa 4 bungkusan Dunkin Donut pas di bandara- dan merasa kasihan karena Dian tidak ada yang menemani saya putuskan nginap di hotel bersama penumpang yang lain.
Besoknya kami take off pukul tujuh pagi. Cuacanya cerah banget, sangat kontras dengan tadi malam. Saya yang duduk paling depan agak sedikit minder dengan pramugari cantik di depan
karena terus terang saya tidak mandi dan baju yang saya pakai sama dengan yang kemarin, cuma gosok gigi dan bersih-bersih yang di luar. Tas yang berisi pakaian ada di bagasi. Saya tidak mengambil bagasi -meskipun kami dibolehkan mengambil bagasi- karena saya pikir akan repot dan akan lama menunggu lagi.
Tepat sejam kami mendarat juga akhirnya di Bandara Jalaluddin Gorontalo. Cerah ga ada hujan, tapi pas kami masuk ke kota tampak banjir menggenang dimana-mana. Ini sih bukan banjir karena hujan saja tapi memang sistem drainasenya juga yang buruk. Dimana-mana di persimpangan jalan dan lampu merah tampak mahasiswa dan aktivis dengan kotak sumbangan korban banjir. “Ati olo….”
Ya, yang jelas saya sudah disini lagi no. “Eh…rumah pangana tidak kena banjir sto?” (Eh…rumahnya ga kebanjiran ya?”
Silahkan dibaca juga:
If you enjoyed this post, make sure you Subscribe to AlhamsyahBLOG by Email !
Translate This Post to:
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | |||||||||||
| By N2H | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
Email This Post














































