Loading...

Archive for November, 2008

Antibiotik bukan Permen! Pemanfaatannya yang Benar dan Efek Negatifnya bila Dikonsumsi Sembarangan

Sunday, November 23rd, 2008

Pernahkah anda suatu hari menderita penyakit flu ringan atau influenza dan dengan inisatif sendiri membeli obat antibiotik di apotik atau toko obat? Kalau iya, saatnya anda meninggalkan kebiasaan tersebut. Di samping ketidaktahuan, masih dirasa mahalnya berobat ke dokter menjadi alasan pasien mengobati dirinya sendiri. Belum lagi aturan dan pengawasan terhadap apotik yang tidak serius oleh pemerintah mengakibatkan pasien bisa membeli langsung obatnya tanpa memakai resep.
Yang lebih memprihatinkan adalah dokter sendiri meresepkan obat antibiotik yang sebenarnya tidak memiliki indikasi klinis.

Pemberian antibiotik yang berlebihan dan tanpa ada indikasi pada akhirnya akan merugikan pasien sendiri dan petugas medis karena akan meningkatkan resitensi kuman. Tentu biaya kesehatan pun akan meningkat pula.
Meskipun perkembangan antibiotik sudah sedemikian sangat maju tapi terjadinya resistensi juga sudah begitu mengkhawatirkan sehingga hal tersebut tidak boleh dianggap remeh. Pemberian antibiotik secara sembarangan juga akan membunuh bakteri yang normalnya ada dan berperan menjaga keseimbangan dengan melawan berkembangnya bakteri jahat yang bisa menyerang tubuh setiap saat. Pada anak-anak pemberian antibiotik yang tidak sesuai indikasi akan mengurangi kekebalan tubuh anak melawan infeksi sehingga daya tahan tubuhnya akan lemah. Akibatnya anak akan gampang terserang penyakit meskipun pada dasarnya penyakit tersebut sebenarnya bisa dilawan sendiri oleh sistem kekebalan tubuh.
Perlu diketahui pula bahwa sifat antibakteri antara satu antibiotik dengan antibiotik lainnya berbeda. Ada antibiotik yang khusus mengobati penyakit ini dan ada antibiotik yang khusus mengobati penyakit itu. Makanya apabila penggunaannya salah selain penyakitnya tidak sembuh akan menimbulkan resistensi silang. Suatu saat penyakit menyerang antibiotiknya sudah tidak mempan lagi.

Berikut hal-hal yang mesti diperhatikan ketika menggunakan antibiotik:
1. Gunakan antibiotik hanya atas indikasi. Apabila penyakitnya penyebabnya bukan infeksi bakteri seperti flu biasa, demam atau batuk yang ringan dan baru terjadi. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai.
2. Apabila minum antibiotik, minumlah obat sampai benar-benar sembuh dan dengan dosis sesuai anjuran dokter. Minum antibiotik yang tidak tuntas akibat merasa sudah sembuh padahal masih ada bakteri yang hidup meningkatkan resistensi.
3. Tanyakan ke dokter kira-kira penyakit infeksi yang anda derita penyebabnya bakteri atau virus. Apabila penyebabnya virus dan dokter meresepkan antibiotik beranilah menolak. Meminta resep vitamin akan lebih bermanfaat bagi anda.
4. Gunakan antibiotik sesuai keperluannya saja (sesuai penyakitnya), apabila ternyata di rumah anda tersedia antibiotik sisa berobat ke dokter kemarin jangan digunakan lagi. Mungkin saja penyakit anda sekarang penyebabnya berbeda dengan yang dulu.

Dokter, Mobil dan Turunnya Nilai Tukar Rupiah Akibat Krisis Keuangan Global

Friday, November 21st, 2008

Ada yang menarik perhatian saya di Berita Kompas.com hari ini. Berita tersebut berjudul “Hadapi Krisis, Honda Sasar Dokter”.
Agar anda tidak perlu lagi membuka beritanya di Kompas.com berikut ini saya kutipkan sebagian: (more…)

Tsunami tidak Jadi Datang….

Tuesday, November 18th, 2008

Alhamdulillah! We just fine!
Guys, Terimakasih atas simpati yang diberikan!

tapi tong penampung air saya jatuh dan pecah, hik..hik…hik….. Setelah terjadi gempa gorontalo kemarin ternyata posisinya jadi miring, pas diisi air jadinya ga seimbang dan PRAK!! jatuh!jadinya…sekarang mesti angkat air sampai tong yang baru ada…

Korban Gempa Gorontalo di Puskesmasku

Sunday, November 16th, 2008

sudah jam 3 disini, kira-kira sudah 3-4 kali terjadi gempa susulan. mungkin itu juga yang membuat saya sulit tidur. baru saja kami kedatangan pasien korban gempa luka di (more…)

Gempa Malam Ini di Gorontalo

Sunday, November 16th, 2008

tepat jam 1 dini hari tadi atau kira-kira setengah jam yang lalu saya dikagetkan oleh gempa yg cukup keras. entah berapa skala richter. saya saat ini di puskesmas di salah satu kabupaten di propinsi gorontalo. sementara masih di depan laptop kaget (more…)

Modem Sony Ericsson W950i vs Modem Huawei Telkomsel Flash

Sunday, November 9th, 2008

Sejak kembali ke tempat PTT beberapa minggu lalu urusan internet dan ngeblog tetap jalan. Pastinya! Iya, mau tidak mau mesti harus tetap online. Meskipun koneksinya belum sampai HSDPA dan hanya bisa sampai GPRS/EDGE tapi tetap saya sukuri-lah. Berbeda dengan beberapa waktu lalu sebelum balik ke makassar, sekarang ini saya memakai HP sebagai modem, Sony Ericsson W950i, tentu dengan bantuan Sony Ericsson PC Suite, bukannya menggunakan modem bawaan dari Telkomsel flash yang bermerk Huawei E220. Entah kenapa modem Telkomsel flash saya susah koneksinya sekarang ini, dulu sih masih agak mendingan sedikit meskipun dipakai di sini. Sekarang ini sudah susah koneksinya alias connection error, trus pas konek eh malah putus lagi, loading halaman website pun tentu jadi tambah lambat. Pas saya coba pake handphone sebagai modem koneksinya jadi agak lebih baik, di panel quick launch Windows-pun tertulis kecepatannya sampai 460.8 Kbps, ini sangat berbeda jauh ketika menggunakan modem Huawei yang kecepatannya tertulis 240.8 Kbps. Kok bisa ya? Padahal spesifikasi modem Huawei Telkomselflash ini lebih tinggi dari hape saya. Dua-duanya support 3G tapi Huawei bisa sampe HSDPA. Memang akan kelihatan bedanya ketika dipakai di area yang support 3G/HSDPA yang biasanya ada di kota tapi kan mestinya paling tidak kecepatannya sama ketika hanya sinyal GPRS/EDGE yang ada. Apakah ini karena pelanggan Telkomsel flash sekarang sudah semakin bertambah banyak? Atau beda karena satunya hape satunya lagi modem tok, tau deh…saya bingung juga. Yang jelas saya hanya khawatir bila terus-terusan menggunakan hape sebagai modem. Selain karena daya tahan hape tidak sekuat atau sabaik modem tok untuk dipakai sebagai modem, juga agak mengganggu komunikasi karena hape saya tidak bisa digunakan untuk komunikasi karena nomer yang saya pasang di hape untuk koneksi adalah nomor halo Telkomsel flash. Apalagi sejak dipakai sebagai modem, hape saya jadi sering mati sendiri.

Melihat apa yang saya alami, apakah ini berarti modem Huawei Telkomsel flash kurang reliable? Bagaimana dengan user indosat 3g, modemnya kan huawei juga?

Balik Ke Tempat PTT (II): Saya Bisa Cerita Lebih, Lagi dan Lagi….

Sunday, November 2nd, 2008

Akhirnya saya kembali juga ke gorontalo dimana saya ditempatkan sebagai dokter PTT setelah beberapa lama liburan di makassar berpuasa ramadhan dan lebaran yang rasanya belum cukup. Meskipun demikian ada sedikit rasa kangen juga balik ke puskesmas. Bertemu pasien oma dan opa yang sering berobat ke puskesmas, rindu bertemu anak-anak mantri yang lucu-lucu, melihat anak-anak sekolah yang cantik-cantik naik angkutan bendi yang saya yakin pemandangan seperti itu tidak akan bisa dijumpai di makassar dan hal-hal lainnya. Tapi pas mengingat kehidupan di tempat PTT yang sunyi, listrik hanya 6 jam sehari, jalan yang tidak beraspal, perjalanan yang jauh (6jam) dari kota ke tempat PTT, sinyalnya hanya gprs, jauh dari temans dan keluargas membuat saya agak malas juga balik ke tempat PTT. Belum lagi saya mesti mengendalikan keinginan saya akan makanan khas makassar.

Keadaan di atas hanyalah sebagian fakta bahwa di negeri kita ini, yang kaya ini, pembangunan masih sangat jauh dari pemerataan. Saya jadi ingat chatting dengan teman beberapa waktu lalu yang sementara di Jepang, menceritakan meratanya pembangunan di sana sampai ke pelosok. Wah, kita kapan ya?

Setelah kembali masuk dinas pun saya mesti berhadapan lagi dengan berbagai kenyataan yang membuat hati ini menangis. Betapa tidak seorang pasien ibu preeklampsia harus melayang nyawanya karena tidak tersedianya obat MgSO4 di puskesmas. Kami juga tidak bisa mengusahakan angkutan untuk rujukan karena mobil puskesmas sudah sangat tidak layak untuk digunakan. Belum cukup ternyata, keesokan harinya saya mesti kembali melihat nyawa melayang. Seorang bayi yang tali pusatnya putus meninggal dengan syok hipovolemik karena terlambat dibawa ke puskesmas. Alasan keluarganya sehingga terlambat dibawa ke puskesmas karena tidak ada biaya dan tidak ada ojek yang mengantar. Ada lagi cerita yang menarik tapi tetap bikin hati ini miris yaitu beberapa waktu lalu ada 2 pasien yang meninggal dalam perjalanan ke kota untuk dirujuk menggunakan kendaraan motor karena mobil puskesmas sudah tidak bisa lagi digunakan.

Saya bisa cerita lagi dan lagi tentang hal-hal menyedihkan seperti ini. Lalu, mestikah saya cuek? Pasrah? Ga bisa coi….hati nurani saya ga tega! Nah anda???

Balik ke Tempat PTT (I): Dua Jam di Dalam Pesawat Sriwijaya Air Bolak-balik Makassar-Gorontalo, Gorontalo-Makassar

Saturday, November 1st, 2008

“Ca, Gue sampe gemetaran lho tadi di atas.” Kata Dian, teman dokter PTT saya sesaat setelah kami berada di perwakilan Sriwijaya Air di bandara Hasanuddin Makassar. Pesawat Sriwijaya Air yang kami tumpangi dengan tujuan Makassar- Gorontalo akhirnya balik lagi ke Makassar setelah kira-kira hampir setengah jam-an berputar-putar (more…)