Semua orang tahu film ayat-ayat cinta, bahkan SBY-pun pernah nonton. Meskipun film ini saya simpan di berbagai tempat: di laptop, di creativeku, di komputer puskesmas dan di cd, tak pernah sekalipun film ini tuntas saya nonton. Kalaupun saya nonton paling hanya sekilas. Dari hasil nonton sekilas, pikirku, film ini kurang asik ditonton meskipun film ini dibuat tentunya untuk ditonton. Saya ingat betul, saya nonton film indonesia di bioskop hanya dua kali, yang pertama jelangkung dan yang kedua saya lupa (mungkin karena saking tidak berkesannya). Hasilnya, kecewa…kecewa sekali dan sangat kecewa sekali. Okelah, kalau kita bandingkan dengan film-film produk luar kita memang kalah banyak, tapi itukan bukan excuse kalau kita tidak bisa. Saya yakin bisa asal orang-orang di film lebih serius menggarapnya dan memperhatikan detail. Mungkin akan butuh biaya yang sangat besar untuk membuat film seperti itu tapi itu harga yang pantas saya kira untuk sesuatu yang baik. Satu yang saya acungi jempol di film ini (two thumbs up pokoknya!). Musik dan lagu-lagunya oke banget. One thousands of respect deh to industri musik dan artis indonesia!
Cari tulisan
LoadingKomentar
- tyAs on Paprika, Obat Tradisional untuk mengatasi Migrain (Sakit Kepala)
- Jefry on Lima Kelebihan iPhone yang tidak anda temukan di Android dan BlackBerry
- iklansarana on Beriklan Gratis di Facebook, Caranya?
- Ria on Lima Kelebihan iPhone yang tidak anda temukan di Android dan BlackBerry
- Ria on Lima Kelebihan iPhone yang tidak anda temukan di Android dan BlackBerry
Arsip
Topik
Topik tulisan
- trik buka situs full via mobile
- cara menggunakan ping di iphone
- cara masukin foto ke iphone
- cara transfer data ke ipad
- buka twitter desktop penuh
- cara mudah jailbreak iphone 3g 4 2 1
- cara meng upgrade facebook for blackberry curve 8310
- cara menghubungkan foursquere ke facebook dan twitter
- kelemahan bb 9780
- tips menghilangkan ngantuk dan malas
Kata kunci
facebookFirefoxipadiPhone 4imawindows ospenyakitapplebookBlackberry App WorldioskankerblogbrowserBlackberry OSBlackBerry PlaybookInternetiPodaplikasi blackberryBISMac OSWindowsblackberry desktop managerios deviceiPhoneiPod touchgoogleRIMdevicetwitterandroidblackberry os 6komputerdokterkanker payudaraiTunesos 6blackberryApp Storeipa
Pernah q nonton
NAGABONAR
atau
NAGABONAR (JADI) 2
atau
DENIAS, NEGERI DI ATAS AWAN?
Nonton q, K’… tapi kalo bisa siapkan ki lebih dari 2 thumbs, karena kalo cuma dua, kayaknya nda cukup. IMHO lho….
Pilem2 indonesia yang lain, kayaknya tunggu di tv saja, 3 bulan dari waktu lepasnya di bioskop, biasanya ada mi di tv. :p
Ralat :
Judul pilem “Denias, Negeri di Atas Awan”, seharusnya
“Denias, Senandung di Atas Awan”
Maapkeun… :p
“denias, negeri di atas awan”? bisa juga tuh jd judul film baru, hehee.. Jadi theme songnya ambil aja lagunya katon bagaskara “negeri di atas awan”.
Assalamu ‘alaikum, K’…
Ada saya rekomendasikan ki pilem baru : “KUNG FU PANDA”, nonton ki, K’… Lucu skali, aslinya ongol…hehehehe… (Baru selesai nonton tadi ^_^v)
Tapi, kayaknya agak susah di’? di negeri antah berantah ki b’lah :p
Mo seng lolos itu :p Kapan ke Makassar ? Kalo ketemu mi ki kota yang ada TO-nya, singgah mi segera (mudah2-an masih ada ji) :p
Okeh ?
Assalamu alaikum, brother Anca!
Ttg film Indonesia, saya rasa kita semua tidak harus menjadi sarjana seni jebolan IKJ fakultas film jurusan kritikus film untuk menilai kualitas film2 kita. Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa film2 itu laris juga? Kenapa banyak yang nonton? Kenapa hanya segelintir orang yang bisa kritis seperti Mas Anca ini? Walaupun sebenarnya Mas Anca ini setahu saya sudah dari dulu kritis abis. Jangankan film, pedagang bakwan di kampus saja bisa kena kritik pedasnya bila menyajikan bakwan dengan kualitas di bawah standar regional.
Saya sependapat dengan Anca ttg kualitas film Indonesia. Kita hanya bisa mengurut dada melihat fenomena ini. Bagi yang belum menikah, silahkan urut dada sendiri… Bagaimana tidak, selain dari segi ide yang tidak variatif, pesan moral yang diusung juga nyaris nihil. Tentu saja tidak termasuk film2 spt nagabonar, Mengaku Rasul dsb. Lihatlah film2 bertema sex humor yang marak belakangan ini. Sangat memprihatinkan melihat para sineas kita berlomba2 membuat pondasi pembenaran terhadap suatu hal yang tabu dan dilarang agama. Mereka berlomba2 menyajikan racun untuk adik2 kita, anak2 kita, dan mengklaim bahwa mereka telah membuat karya. Statemen klasik selalu dilontarkan bahwa apapun filmnya, semuanya tergantung pada persepsi penontonnya. Bisa2nya mereka berkata seperti itu? Padahal mereka tahu pasti, bahwa salah satu barometer keberhasilan suatu film diukur dari seberapa bisa film itu merasuki penonton dan seberapa banyak ide2 dalam film itu disetujui penonton tanpa mereka sadari? Ah, saya bisa saja menulis banyak ttg hal ini, semua kekecewaan saya terhadap sebagian sineas kita.
Sayangnya lagi, masyarakat kita sebagian besar masih bodoh dengan malah menikmati film2 picisan itu dan sebagian kecilnya yang tidak bodoh justru bermasa bodoh. Makin kloplah siklus bodoh-membodohi-masa bodoh ini.
Oke, saya kayaknya terlalu panjang menulis. Mungkin sebaiknya saya bikin tulisan sendiri di blog saya, tapi jujur, tulisan Anca ini menggelitik saya untuk bekoar!
Oke deh, saya sudahi saja. Sebelum ongkos warnet membengkak. Salam rindu buat Anca. Keep posting, bro!
Kapan kita makan ayam sari laut lagi? We all miss you.
Wassalam!
wah…satu kritikan yang saya yakin tepat sekali. Miss u too, guys!