Bentuknya agak persegi, warnanya putih, depan dan belakangnya tertempel plat berwarna gincu bertuliskan DM 1008 B . Yaa, itulah mobil puskesmas kami, yang bagi kebanyakan pegawai puskesmas disini sering menyebutnya “besi tua”. Pernah sewaktu mobil ini dipakai ke kampung sebelah, di tengah perjalanan knalpotnya jatuh. Orang-orang satu kampung sampai berteriak supaya kami menghentikan mobil untuk mengambil knalpotnya yang jatuh. Hehehe…jadi ingat mobil VW tua teman. Bukannya mengingat kejadian pas jatuhnya besi pelindung lampu kiri mobil vw teman itu, tapi mengingat begitu sensitifnya teman saya itu yang cepat sadar kalau ada sesuatu dari mobilnya yang tertinggal, sementara saya di sampingnya tidak merasakan apa-apa kalau ada sesuatu yang jatuh. Heeebat!
Akhir-akhir ini, mobil puskesmas itu pada malam harinya sering saya pakai untuk pergi beli pisang goreng dan tahu meskipun lampu depannya hanya menyala satu. Mengendarai mobil ini rupanya bagus juga untuk memperbesar otot bahu dan sama sekali tidak memerlukan klakson pas dikendarai. Bukan karena panel klakson yang tertancap di stang stir sudah copot dan tidak berfungsi, bunyi berisik bodinya yang timbul meskipun di jalan yang sangat mulus sekalipun menjadi semacam ‘pesan/tanda’bagi siapa saja di depannya untuk, MINGGIIIIR!
Nah kemarin malam itu kebetulan ada acara semacam konsernya orang kampung (orang disini menyebutnya ‘hiburan’) karena lagi ada kampanye salah seorang calon bupati. Daripada bengong sendirian di komplek puskesmas karena semua yang lain pergi, saya memutuskan untuk ikut. Bersama rombongan yang isinya orang-orang sekitar puskesmas kami berangkat ke acara tersebut. Belum sampai keluar dari pagar puskesmas saya sadar kalau lampu depan mobil semuanya mati. Sial! Mungkin, tadi pas kap depannya dibuka untuk diisi air kabelnya tersentuh dan putus. Tapi, tak apalah dengan modal nekat tanpa lampu depan sama sekali dengan jalan yang gelap gulita karena sama sekali tanpa penerangan lampu jalan kami berangkat. Dua motor puskesmas yang juga akan ke acara tersebut mengawal kami, satu di depan dan satunya lagi di belakang. Seperti rombongan pejabat saja sampai dikawal segala. Meskipun begitu, baik pergi dan pulangnya nyaris menyenggol beberapa orang dan motor yang di parkir di pinggir jalan yang memang ramai di sekitar tempat acara. Bawa mobil ini pokoknya enggak lagi deh! Kapok!
Rupanya kesialan saya belum juga hilang bulan ini. Masih teringat kemarin waktu ada puskesmas keliling di daerah transmigrasi yang mesti melalui sungai karena jembatannya putus. Pas di tengah sungai yang airnya tidak naik meskipun malamnya hujan saya terpeleset dan sandal jepit saya putus. Setengah badan ke bawah basah kuyup. Tanpa alas kaki saya melanjutkan perjalanan setelah salah seorang perawat menawarkan sandalnya untuk saya pakai. Tak apalah…. Demi bangsa dan negaraku, aku maju. *HALLAGHHHH!*