Baru-baru ini saya mengikuti pelatihan ACLS, ATLS dan Hiperkes, semacam pelatihan atau kursus untuk dokter. Dengan itu saya berharap bisa dapat ilmu baru dan merefresh ilmu kedokteran saya setelah rasanya hampir seabad di tempat PTT ‘sangat’ terpecil tanpa tambahan ilmu, bahkan sedikit yang pernah nyangkut sewaktu kuliah sepertinya sudah hilang semua. Selain bisa pulang makassar, pastinya………makan coto…palu basa…mi titi….bakso….sop saudara…. Wuih nyamanna! Tapi lebih penting lagi atls, acls dan hiperkes bisa jadi bekal kita kerja di manapun (for sure!).
Dari info yang beredar penguji atls terkenal agak sangar. Sangar dalam arti sering tidak meluluskan peserta dan sangar dalam arti yang sebenarnya (upss…), apalagi setelah mengetahui kabar kalau dr. N* dan dr. S***** yang dari kalimantan itu ikut turun buat membantai kami. Ya, mereka berdua betul-betul turun akhirnya dan berhasil mengeksekusi (untungnya) satu (saja) peserta yang juga senior kami pada saat ujian di hari terakhir. Masih setengah percaya kalau merea betul-betul turun saya mengikuti kegiatan pelatihan atls dengan mantap. Ya iyyalah..siapa yang rela tidak lulus dan kehilangan duit 4 juta hasil dari peras keringat plus pulang dengan malu tanpa sertifikat atls?
Ikut pelatihan ATLS ternyata sangat melelahkan dan kurang tidur. Bagaimana tidak, pagi-pagi buta kami sudah mesti di upf yang menjadi tempat pelatihan jam 7 teng dan pulang malam. Belum materinya yang seperti diktat kuliah bedah satu semester yang harus kami habiskan dalam dua hari saja. Kapan belajarnya?
Tapi ternyata asik juga ikut kursus atls, selain bisa tau gosip-gosip terbaru (lho!) karena bisa kumpul dengan teman-teman, makanannya juga enak. Belajarnya juga fun karena bisa ketemu dengan abang ‘kambing’ yang jadi objek kesadisan kami semua yang dengan pasrah dan tanpa bisa melawan karena terikat kuat dengan tali. Seperti biasa atls ujiannya tertulis dan ujian praktek di depan penguji dan pasien ujian. Yang saya tahu pada saat ujian praktek hal pertama yang harus diingat adalah melakukan prokteksi diri (memakai sarung tangan,google, penutup kepala dan jubah) dan hal penting inilah yang saya lupa sebutkan pada saat di depan pasien ujian, maka buyarlah semuanya…kacau…semuanya hilang. Untungnya penguji saya masih baik. Meski sempat remedial ujian tertulis sampai dua kali saya akhirnya lulus juga meski dengan bantuan *censored*. Terima kasih dr. Agung Syaifulloh. Ternyata takdir mempertemukan kami lagi setelah ketemu di tempat praktek karena saya pernah jadi pasiennya.
Bagaimana dengan pelatihan ACLS? Hmmmh.. ini sebenarnya lebih seru dan lebih banyak yang bisa diceritakan. Salah satunya apalagi kalau bukan tentang salah satu pembimbingnya yang masih sangat muda untuk ukuran dokter spesialis plus eMKes yang bisa membuat para peserta cewek ‘ikhlas’ dan ‘ridho’ menceraikan pacarnya.
Suasananya mirip atls tapi lebih agak santai dan fresh karena pembimbingnya bisa membuat kami tertawa meski kedua tangan kami lagi memegangi paddle (semacam pegangan yang diletakkan di dada pasien untuk memperbaiki detak jantung) atau lagi cpr (pijat jantung). So ….I’M FUN, YOU ARE FUN AND EVERY BODY FUN! Lho! (ada yang ga ngerti, makanya ikut acls dulu deh!).
Terakhir, hiperkes. Sori tapi mengingatnya saja sudah bikin malas. Yang membekas di pelatihan ini seingat saya adalah pada saat pembukaan yang acaranya lebih mirip upacara bendera, dan tidak hanya itu, peserta diminta menyanyikan lagu indonesia raya dan padamu negeri. Saat menyanyikan indonesia raya sih lancar-lancar saja, nah tiba giliran menyanyikan padamu negeri, saya lupa kapan ya padamu negerinya….kapan bagimu negerinya…kacau akhirnya!
Akhirnya juga, “terimakasih buat semuanya!”