Akhirnya saya kembali juga ke gorontalo dimana saya ditempatkan sebagai dokter PTT setelah beberapa lama liburan di makassar berpuasa ramadhan dan lebaran yang rasanya belum cukup. Meskipun demikian ada sedikit rasa kangen juga balik ke puskesmas. Bertemu pasien oma dan opa yang sering berobat ke puskesmas, rindu bertemu anak-anak mantri yang lucu-lucu, melihat anak-anak sekolah yang cantik-cantik naik angkutan bendi yang saya yakin pemandangan seperti itu tidak akan bisa dijumpai di makassar dan hal-hal lainnya. Tapi pas mengingat kehidupan di tempat PTT yang sunyi, listrik hanya 6 jam sehari, jalan yang tidak beraspal, perjalanan yang jauh (6jam) dari kota ke tempat PTT, sinyalnya hanya gprs, jauh dari temans dan keluargas membuat saya agak malas juga balik ke tempat PTT. Belum lagi saya mesti mengendalikan keinginan saya akan makanan khas makassar.
Keadaan di atas hanyalah sebagian fakta bahwa di negeri kita ini, yang kaya ini, pembangunan masih sangat jauh dari pemerataan. Saya jadi ingat chatting dengan teman beberapa waktu lalu yang sementara di Jepang, menceritakan meratanya pembangunan di sana sampai ke pelosok. Wah, kita kapan ya?
Setelah kembali masuk dinas pun saya mesti berhadapan lagi dengan berbagai kenyataan yang membuat hati ini menangis. Betapa tidak seorang pasien ibu preeklampsia harus melayang nyawanya karena tidak tersedianya obat MgSO4 di puskesmas. Kami juga tidak bisa mengusahakan angkutan untuk rujukan karena mobil puskesmas sudah sangat tidak layak untuk digunakan. Belum cukup ternyata, keesokan harinya saya mesti kembali melihat nyawa melayang. Seorang bayi yang tali pusatnya putus meninggal dengan syok hipovolemik karena terlambat dibawa ke puskesmas. Alasan keluarganya sehingga terlambat dibawa ke puskesmas karena tidak ada biaya dan tidak ada ojek yang mengantar. Ada lagi cerita yang menarik tapi tetap bikin hati ini miris yaitu beberapa waktu lalu ada 2 pasien yang meninggal dalam perjalanan ke kota untuk dirujuk menggunakan kendaraan motor karena mobil puskesmas sudah tidak bisa lagi digunakan.
Saya bisa cerita lagi dan lagi tentang hal-hal menyedihkan seperti ini. Lalu, mestikah saya cuek? Pasrah? Ga bisa coi….hati nurani saya ga tega! Nah anda???
